daki-daki degradasi

MAS PER - Siapapun itu apapun itu kalau terjun bebas ke bawah pasti tidak akan ada pernah mau. Jelas jelas hal demikian adalah sebuah kenyataan pahit. Seorang murid sekolah dalam hati kecilnya nggak akan pernah mau tidak naik kelas. Karena point sebagai murid adalah belajar banyak, nambah ilmu, nyerap ilmu. Sementara ilmu sendiri adalah level dan lapis. Yang bisa memasuki labirin selanjutnya berarti adalah yang siap. Nah yang siap adalah yang kompetitif dan survive. Studi kelayakannya adalah naik kelas. The next level nerima tantangan selanjutnya, seperti main game petualangan atau kotak tudung saji ala reality nyali fear factor yang harus menghilangkan was-was. Untuk itu ini adalah ujian mental bagi orang yang naik kelas.

Degradasi dalam sepakbola adalah aib, setidaknya turun divisi adalah episode sedih tangisan termehek-mehek bagi setiap tim yang sebelumnya dalam jalur kompetisi teratas. Masih ingat dengan juventus sang kuda jingkrak italia yang perkasa dan legenda?. Terlepas dari masalah kotor kotor, suap dan pengaturan skor, tim besar sekelas dia harus berlaga di kompetisi kelas dua. jelas kita hidup dalam sistem kelas. Di serie b juventus mulus tanpa tanding. Tentu saja ksatria melawan sudra jelas tak sebanding. Seorang ksatria harus nemu sparring patner yang tepat, yang bisa mengaduk aduk semangat lagi. Meneteskan keringat dalam ketat kompetisi. Sebuah kado manis juara serie b tentu saja tidak akan pernah cukup. Tim besar hanya dengan ambisi besar, tanpa mengurangi rasa hormat level serie b. Sebuah analogi ikan paus hanya mengenal samudra luas sebagai rumahnya. Bila ternyata sang paus sampai terdampar di tepian pantai berarti goblok atau....?. Ah sudahlah sering seorang jagoan dalam film terseok seok di awal, di ending terakhir menikmati kemenangan dengan champagne atau pelukan wanita. Dengan rada sebel, sebuah pengecualian bagi "Steven seagel", dia selalu menang terus, tak tersentuh untochable..

Tetapi membicarakan sepakbola adalah misteri. Masih ingat dengan yunani berkiprah di piala eropa 2004?. Siapa yang berani memprediksi mereka sampai sejauh itu?. Berbekal negative foot ball, dan mungkin dewa-dewa mereka dalam mitologi, mungkin juga keberuntungan bin hoki. Atau pasukan negri dongeng "Denmark" dalam piala eropa 1992 yang trengginas menyulut sumbu dinamitnya. Mereka adalah one hit wonder dalam sepakbola. Kejutan-kejutan kecil dalam hegemoni sepakbola. Mereka adalah semut yang diinjak kaki raksasa, tetapi berani menggigit. Raksasa ternyata bisa merasa sakit. filosofi bola itu bundar, ada benarnya. Sebenarnya saya pengin mencari jawaban pada mirwan santoso sang moviemakers lokal yang mengangkat tema ini pada karyanya. Sayang sekali saya tak mendapat film "bola itu bundar" ,nampaknya saya ditakdirkan menikmati misteri sepakbola seumur hidup.

Degradasi sudah jelas dihindari jauh jauh bagi sebuah tim. Teknisnya, seorang pelatih berpengalaman akan memakai eksperimen dgn pola pola baku atau anomali. Pemain-pemain menjadi kelinci percobaan di lapangan hijau. Standartnya, seorang manajer pintar akan mengelola finansial yang kuat. faktor-faktor non teknis yang menggangu proses tendang menendang akan diminimalis. Ini tentang jaman sekarang, uang adalah jaminan seseorang untuk melakukan profesionalitas. Klub-klub gurem pastinya hidup dengan manajemen senin kamis. Pelatih yang hanya bisa ngandelin kumis. Kalaupun klub gurem bisa menjadi juara tanpa finansial cukup, berarti perjuangan yang dramatis, masih ingatkah cerita manis Blackburn rovers menutup kompetisi 1995 liga inggris?. Saya sangat terharu, dengan keterbatasan mereka main dengan hati. Kapitalisme boleh saja merebut sepakbola menjadi showbizz. Tetapi sepakbola adalah tentang tim, individual-individual yang tidak ego dan mau berjuang. Jika harus tidak naik kelas, jika harus terperosok jatuh turun divisi. Jika harus tanpa sponsor cukup untuk berlaga. Dengan energi daki-daki, sisa sisa sajian utama.
biarpun hening dan tanpa glamouritas, sepakbola tetap saja indah dalam sederhana. Daki-daki degradasi, tetaplah bermain dengan hati.....